PERAYAAN NATAL, TAHUN
BARU MASEHI, VALENTINES’DAY, APRIL MOP, DLL SEMUA SAMA
Sebentar lagi kita akan
memasuki tahun baru 2017. Sudah menjadi kebiasaan, setiap pergantian tahun,
dunia selalu dipenuhi dengan hingar-bingar perayaan tahun baru masehi, tak
terkecuali di negeri ini, negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Sungguh
ironi negeri ini, dengan populasi penduduk mayoritas beragama Islam, tapi
nilai-nilai Islam seakan-akan luntur dari jati diri masyarakat. Perayaan tahun
baru Masehi diramaikan dengan gegap gempita acara semalam suntuk, hingar-bingar
musik yang diiringi sorak sorai suara terompet dan kembang api. Berbagai bentuk
kemaksiatan tidak ada yang terlewat untuk mereka kerjakan, pesta pora yang
sering berujung pada perzinaan, mabuk-mabukan, pesta narkoba, hingga
perkelahian. Inilah wajah 1001 kemaksiatan yang tampak nyata menjelang
pergantian tahun baru.
Acara rutin pergantian
tahun masehi ini telah menjadi ajang kemaksiatan dan sumber petaka. Salah
satunya, perzinaan merajalela di malam tahun baru. Tak sedikit hotel dan kafe
menawarkan tarian erotis. Kondom pun laris manis. Menjelang pergantian tahun,
mulai dari sore hari, banyak kalangan ABG (anak baru gede) membanjiri minimarket
dan apotek guna mencari kondom dan minuman keras (Hidayatullah.com, 3/1/2014).
Tercatat di Kepulauan
Riau (Kepri) pada saat menjelang perayaan tahun baru 2016 silam, penjualan
kondom di sejumlah apotek, toko obat, dan minimarket meningkat. Mereka yang
membeli kondom ini kebanyakan masih berusia muda, bahkan ada yang berstatus
pelajar. Imri, Pemilik Toko Obat Berizin di kawasan Hotel Melati Nagoya
mengungkapkan, penjualan kondom meningkat sehari menjelang pergantian tahun
baru, rata-rata mencapai 15 persen (Okezone, 31/12/15). Bahkan peningkatan
permintaan alat kontrasepsi jenis kondom ini di Bengkulu 100 persen, saat menjelang
tahun baru 2015. Ketua Yayasan Kantor Informasi Pusat dan Adiksi (KIPAS)
Bengkulu Merli Yuwanda mengatakan, permintaan yang datang dari pelajar,
angkanya bahkan mencapai 40 persen dari total kebutuhan kondom se-Provinsi Bengkulu
(Liputan6.com, 22/12/2014). Hal ini cukup mewakili gambaran praktik perayaan
tahun baru Masehi seperti di kota-kota besar antara lain Surabaya, Jakarta,
Bandung, dan lainnya. Sudah sedemikian jauh para pemuda negeri ini melangkah
mendekati kehancuran. Sungguh menyayat hati orang-orang yang masih mencintai
kebaikan.
Lebih mirisnya lagi,
mereka yang melakukan perayaan tahun baru Masehi, sebagian besarnya berasal
dari kalangan umat Islam. Mereka tidak sadar bahwa meniru dan mengikuti budaya
perayaan tahun baru bisa mengikis akidah Islam. Status hukum perayaan tahun
baru jelas bagi umat Islam yakni haram. Semua bentuk perayaan tersebut
merupakan tindakan penyimpangan terhadap akidah dan syari’ah yang diturunkan
Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Perayaan tahun baru
adalah budaya yang dimiliki oleh kaum di luar Islam. Tahun baru Masehi
sejatinya termasuk bagian dari hari suci umat Nasrani. Bagi orang Nasrani yang
mayoritas menghuni belahan benua eropa, tahun baru Masehi dikaitkan dengan
kelahiran Yesus Kristus. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dengan tegas telah melarang kita untuk
meniru budaya atau tradisi agama lain, sebagaimana sabdanya, “Siapa saja yang
menyerupai suatu kaum, ia termasuk salah seorang dari mereka.” (HR. Abu Dawud dan
Ahmad).
Padahal Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam telah bersabda, “Sungguh kalian akan mengikuti perilaku orang-orang sebelum
kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Bahkan jika mereka masuk
ke dalam lubang biawak gurun tentu kalian akan mengikutinya.” (HR. Bukhari dan
Muslim).
Inilah cara barat dan
kaum kafir agar pemuda Islam jauh dari identitas mereka sebagai seorang Muslim.
Menjejali pemuda Islam dengan tradisi dan budaya mereka. Membiasakan umat Islam
dengan beragam bentuk kemaksiatan. Dengan dukungan sumber informasi dunia yang
mereka kuasai, mereka menyerukan dan mempublikasikan hari-hari besarnya ke seluruh
lapisan masyarakat serta dibuat seolah-olah itu merupakan hari besar yang
bersifat umum, populer dan bisa diperingati dan dirayakan oleh siapa saja. Dengan
hal ini, umat Islam juga dijadikan sebagai sasaran empuk meraup keuntungan dari
bisnis kotor mereka, seperti kondom, miras, dan sebagainya. Para penguasa boneka
di negeri-negeri kaum kaum muslimin pun ikut andil dalam mengkampanyekan
pemikiran liberalism ini kepada masyarakat dengan memberikan fasilitas untuk
melakukan beragam kemaksiatan khususnya saat perayaan tahun baru.
Tidak layak bagi seorang muslim
yang masih melekat dalam dirinya keinginan untuk memasuki surga Allah Subhanahu
wa Ta’ala untuk turut terlena dalam euphoria perayaan tahun baru Masehi. Islam
telah melarang umatnya melibatkan diri di dalam perayaan hari raya orang-orang
kafir, ataupun bentuknya sama saja telah mengikuti kekufuran. Melibatkan diri
di sini mencakup perbuatan : mengucapkan selamat, hadir di jalan-jalan untuk
menyaksikan atau melihat perayaan orang kafir, mengirim kartu selamat, dan lain
sebagainya. Adapun perayaan hari raya orang kafir di sini mencakup seluruh
perayaan hari raya, perayaan orang suci mereka, dan semua hal yang berkaitan
dengan hari perayaan orang-orang kafir (musyrik maupun ahlul kitab).
Akankah kita biarkan
kejahiliyahan dan kemaksiatan ini berlangsung terus-menerus? Tentu tidak. Sekaranglah
saatnya kita untuk berubah. Berdiam diri terhadap kekufuran dan kemaksiatan
adalah sebuah kehinaan. Dan melakukan perubahan adalah jalan kemuliaan. Mari kita
perjuangkan bersama. Yuk, kita kembali ke jati diri kita sebagai seorang
Muslim, yaitu terikat dengan Syari’ah Islam. Back To The Real MUSLIM STYLE,
bukan western style. Kembali pada Islam agar kemuliaannya segera terwujud
dengan tegaknya hukum Islam untuk mengembalikan tatanan kehidupan yang dirusak
oelh budaya dan pemikiran Barat. Wallaahu a’lam.



