Semua manusia punya kisah perjalanan hidupnya. Tak terkecuali aku. Ini kisah hidupku. Kisah yang paling berharga sepanjang riwayat hidupku. Terlalu panjang untuk di ceritakan. Namun, mau tidak mau harus ku tuliskan, semoga bagi pembaca sekalian dapat mengambil pelajaran serta manfa'at dari perjalanan hidupku ini.
Tepat di tahun 2015 yang lalu, ketika aku duduk di bangku perkuliahan semester ke-3, aku merenung di pintu belakang kost-kostan. Kala itu tidak ada orang di sana, kecuali aku. Ku bawa sebatang pena dan secarik kertas binder sambil menatap pepohonan di belakang pintu tersebut.
Di sana, aku mulai terfikir untuk mencari jati diriku. Ku tulis di secarik kertas tersebut beberapa targetku ke depannya. Ku tekadkan pula bahwa aku harus berubah menjadi lebih baik. Maka, ku tulislah targetku baris demi baris. Aku ingin di semester 3 ini mulai memakai rok dan baju blouse/kemeja, dengan khimar yang sedikit di lebarkan hingga ke dada. Lalu, aku akan pakai khimar 2 lapis agar tidak nerawang. Selanjutnya aku akan pakai baju kurung agar kelihatan longgar dan panjang. Setelahnya, aku beralih untuk memakai gamis dengan kerudung yang masih sama. Kemudian, barulah aku memakai kerudung yang super lebar dan panjang seperti mukena.
Saat itu, aku tekadkan diri untuk berangsur-angsur mewujudkan target yang telah ku tulis. Pertama-tama, aku mencoba memakai rok dengan baju kemeja dan khimar menjulur ke dada, yang mana sebelumnya aku masih memakai celana levis. Sangat bersyukur, karna target pertamaku sudah terwujud dan berjalan lancar. Selanjutnya, aku merasa masih kurang dan belum sempurna dalam menutup aurat. Pada akhirnya, aku mencoba jalani target keduaku dengan memakai baju kurung, rok dan khimar 2 lapis. Saat ini belum ada rintangan, dalam artian semua proses berjalan dengan lancar. Sangat bersyukur, pada tahap ini aku berhasil merubah pakaianku. Setelah itu, aku masih merasa belum puas dengan perubahan pakaianku yang masih standar seperti ini. Hingga pada saat itu, aku mencoba menjalani target selanjutnya untuk menggunakan gamis dengan kerudung yang sama seperti sebelumnya. Kali ini banyak orang yang kaget melihat perubahanku yang tiba-tiba syari (katanya). Saat itu aku memasuki semester 5 di bangku perkuliahan. Bersyukur lagi semuanya berlalu dengan mulus.
Selang beberapa bulan, aku bertekad lagi ingin memakai kerudung yang lebar dan dalem seperti mukena. Perasaanku senang sekali saat memakai kerudung yang dalem tersebut, hingga akhirnya ku pakai ke kampus kerudung yang lebar dan dalem tersebut. Di saat inilah, banyak yang meledeki. Semua mata tertuju kepadaku. Mau jalan hendak pergi ke ruangan, ada yang sampai meledeki dengan mengucapkan salam dan menggelariku sebagai ustadzah, sambil tertawa. Namun, aku tetap fokus pada perjalananku sambil menunduk dan tidak menghiraukan mereka sama sekali.
Saat-saat inilah, aku terkadang merasa bahwa diriku ini terlalu nekad. Di kelas, saat dosen memberikan pengajaran, aku malah di suruh tampil ke depan untuk presentasi. Di satu sisi aku merasa segan karna dilihat-lihat orang, di sisi lain aku berusaha percaya diri semaksimal mungkin, karna ini keputusan yang telah aku jalani, mau tidak mau aku harus menanggung resiko dari apapun yang terjadi menimpaku. Bersyukur sebanyak-banyaknya. Lika-liku pun telah berlalu, dan oranglain sudah terbiasa melihat pakaianku seperti ini.
Namun, proses perubahan pakaianku tidak berhenti sampai di sini saja. Aku memulai lagi target baru untuk bisa menutupi auratku lebih sempurna lagi. Hal ini di sebabkan karna aku terkagum melihat seorang ibu-ibu dengan membawa anak yang menyebrangi jalan, dan ibu-ibu tersebut memakai pakaian yang sama dari ujung kepala sampai ke ujung kaki, artinya dari kerudungnya, hingga gamisnya satu warna plus cadar. Aku terkesima melihat ibu-ibu tersebut. Dan aku pun bertekad, suatu saat aku juga akan seperti itu.
Ku coba cari-cari pakaian satu set seperti ibu-ibu tadi, dan ku tanyakan harga nya, ternyata begitu mahal. Dan aku sadar, untuk menutupi aurat secara sempurna itu butuh perjuangan mental dan pengorbanan harta juga. Sebab, wanita shalihah bagai mutiara yang mahal harganya di karnakan pakaiannya yang bukan murahan.
Bersyukur lagi, Tuhan berikan rezeki padaku. Hingga sampai pada titik akhirnya aku membeli pakaian-pakaian syari plus dengan cadarnya. Namun, saat itu aku belum memutuskan untuk bercadar.
Aku mencari situasi yang tepat untuk memakai cadar. Menakjubkan, tepat di tahun 2017, saat proses walimahanku, aku memutuskan untuk memakai cadar. Luar biasa, saat inilah aku menemukan banyak benturan, rintangan hingga hambatan dari keluarga dan orang-orang sekitar tempat tinggalku terhadap perubahanku yang memakai cadar tersebut. Namun, aku tak pupus harapan, aku tetap memakainya, dan tidak menghiraukan perkataan mereka. Bagiku, selama yang aku yakini dan jalani itu benar, maka pasti akan ku pertahankan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berkomentarlah dengan bijak dan bahasa yang santun ATAU lebih baik diam.