Senin, 12 Desember 2016

KELUARGAKU SURGAKU, BUKAN TERMINAL



KELUARGAKU SURGAKU, BUKAN TERMINAL

            Sering kita jumpai keluhan keluarga yang mengatakan tidak mempunyai waktu luang untuk berkumpul dengan keluarganya, kecuali malam hari. Belum lagi dihimpit oleh rasa lelah karena seharian bekerja, sehingga menghantarkannya untuk langsung tidur. Mana waktu untuk berkumpul sama keluarga? Berdiskusi dan sebagainya. Padahal keluarga butuh suasana kebersamaan untuk bisa saling mendengar dan didengarkan. Anak pun juga ingin mendapatkan perhatian khusus dari kedua oranguanya.
            Tidak jarang pula ditemui bahwa bukan cuma bapak yang banting tulang mencari nafkah, tapi ibu juga banting tulang siang dan malam. Anak tidak tau menau apa aktivitasnya. Pulangnya malam, setelah itu istirahat, dan besok pergi lagi untuk bekerja. Begitulah siklus kehidupannya. Seolah rumah hanya dijadikan sebagai tempat peristirahatan sementara saja ibarat terminal. sibuk dengan rutinitas masing-masing, akibatnya anak tidak terkontrol, kurangnya perhatian dari orang tua dan menyebabkan banyak terjadi penyimpangan dalam keluarga.
            Harus dipahami, bahwasanya dengan sistem perekonomian yang kian menjerat umat sehingga umat pun berada pada kurva tingkat paling bawah. Inilah faktor pemicu seorang perempuan turut andil dalam bekerja. Padahal di dalam Islam, yang bertugas wajib untuk mencari nafkah adalah bapak. Ketika perusahaan membutuhkan perempuan yang bekerja, lalu laki-laki tereksekusi dalam melakukan perannya. Disini tampak bahwa para kapitalis hanya memanfa’atkan potensi yang ada pada perempuan untuk meningkatkan citra perusahaannya. Maka, disini pula perempuan perlu menyadari bahwa segala sesuatu yang menghantarkannya pada kemudhoratan yang besar, maka haram baginya untuk melakukan perbuatan tersebut.
            Islam sangat memuliakan perempuan. Allah telah melebihkan kekuatan kepada kaum laki-laki ketimbang kaum perempuan. Oleh karena itu laki-laki yang wajib mencari nafkah dengan bekerja. Sementara perempuan tidak diwajibkan. Tugas perempuan adalah sebagai ummu wa robbatul bayt (ibu pengatur rumah tangga), mendidik anak sehingga menjadikannya generasi yang cerdas dan mampu menjadi pembela Islam yang terpercaya. Dengan menjalankan tugas pokok dan fungsi nya masing-masing sesuai dengan aturan Islam, tidak keluar dari koridor Islam, maka jadilah keluarganya menjadi sakinah mawaddah wa rohamah, dan baiti jannati mampu ia raih bersama keluarganya. Allahu Akhbar.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan bijak dan bahasa yang santun ATAU lebih baik diam.