Rabu, 28 Desember 2016

TenTanG 1001 MaKSiaT DI 'AKHIR TaHUn'



PERAYAAN NATAL, TAHUN BARU MASEHI, VALENTINES’DAY, APRIL MOP, DLL SEMUA SAMA

              Sebentar lagi kita akan memasuki tahun baru 2017. Sudah menjadi kebiasaan, setiap pergantian tahun, dunia selalu dipenuhi dengan hingar-bingar perayaan tahun baru masehi, tak terkecuali di negeri ini, negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Sungguh ironi negeri ini, dengan populasi penduduk mayoritas beragama Islam, tapi nilai-nilai Islam seakan-akan luntur dari jati diri masyarakat. Perayaan tahun baru Masehi diramaikan dengan gegap gempita acara semalam suntuk, hingar-bingar musik yang diiringi sorak sorai suara terompet dan kembang api. Berbagai bentuk kemaksiatan tidak ada yang terlewat untuk mereka kerjakan, pesta pora yang sering berujung pada perzinaan, mabuk-mabukan, pesta narkoba, hingga perkelahian. Inilah wajah 1001 kemaksiatan yang tampak nyata menjelang pergantian tahun baru.

                Acara rutin pergantian tahun masehi ini telah menjadi ajang kemaksiatan dan sumber petaka. Salah satunya, perzinaan merajalela di malam tahun baru. Tak sedikit hotel dan kafe menawarkan tarian erotis. Kondom pun laris manis. Menjelang pergantian tahun, mulai dari sore hari, banyak kalangan ABG (anak baru gede) membanjiri minimarket dan apotek guna mencari kondom dan minuman keras (Hidayatullah.com, 3/1/2014).

              Tercatat di Kepulauan Riau (Kepri) pada saat menjelang perayaan tahun baru 2016 silam, penjualan kondom di sejumlah apotek, toko obat, dan minimarket meningkat. Mereka yang membeli kondom ini kebanyakan masih berusia muda, bahkan ada yang berstatus pelajar. Imri, Pemilik Toko Obat Berizin di kawasan Hotel Melati Nagoya mengungkapkan, penjualan kondom meningkat sehari menjelang pergantian tahun baru, rata-rata mencapai 15 persen (Okezone, 31/12/15). Bahkan peningkatan permintaan alat kontrasepsi jenis kondom ini di Bengkulu 100 persen, saat menjelang tahun baru 2015. Ketua Yayasan Kantor Informasi Pusat dan Adiksi (KIPAS) Bengkulu Merli Yuwanda mengatakan, permintaan yang datang dari pelajar, angkanya bahkan mencapai 40 persen dari total kebutuhan kondom se-Provinsi Bengkulu (Liputan6.com, 22/12/2014). Hal ini cukup mewakili gambaran praktik perayaan tahun baru Masehi seperti di kota-kota besar antara lain Surabaya, Jakarta, Bandung, dan lainnya. Sudah sedemikian jauh para pemuda negeri ini melangkah mendekati kehancuran. Sungguh menyayat hati orang-orang yang masih mencintai kebaikan.

        Lebih mirisnya lagi, mereka yang melakukan perayaan tahun baru Masehi, sebagian besarnya berasal dari kalangan umat Islam. Mereka tidak sadar bahwa meniru dan mengikuti budaya perayaan tahun baru bisa mengikis akidah Islam. Status hukum perayaan tahun baru jelas bagi umat Islam yakni haram. Semua bentuk perayaan tersebut merupakan tindakan penyimpangan terhadap akidah dan syari’ah yang diturunkan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Perayaan tahun baru adalah budaya yang dimiliki oleh kaum di luar Islam. Tahun baru Masehi sejatinya termasuk bagian dari hari suci umat Nasrani. Bagi orang Nasrani yang mayoritas menghuni belahan benua eropa, tahun baru Masehi dikaitkan dengan kelahiran Yesus Kristus. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dengan tegas telah melarang kita untuk meniru budaya atau tradisi agama lain, sebagaimana sabdanya, “Siapa saja yang menyerupai suatu kaum, ia termasuk salah seorang dari mereka.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad).
Padahal Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam telah bersabda, “Sungguh kalian akan mengikuti perilaku orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Bahkan jika mereka masuk ke dalam lubang biawak gurun tentu kalian akan mengikutinya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

              Inilah cara barat dan kaum kafir agar pemuda Islam jauh dari identitas mereka sebagai seorang Muslim. Menjejali pemuda Islam dengan tradisi dan budaya mereka. Membiasakan umat Islam dengan beragam bentuk kemaksiatan. Dengan dukungan sumber informasi dunia yang mereka kuasai, mereka menyerukan dan mempublikasikan hari-hari besarnya ke seluruh lapisan masyarakat serta dibuat seolah-olah itu merupakan hari besar yang bersifat umum, populer dan bisa diperingati dan dirayakan oleh siapa saja. Dengan hal ini, umat Islam juga dijadikan sebagai sasaran empuk meraup keuntungan dari bisnis kotor mereka, seperti kondom, miras, dan sebagainya. Para penguasa boneka di negeri-negeri kaum kaum muslimin pun ikut andil dalam mengkampanyekan pemikiran liberalism ini kepada masyarakat dengan memberikan fasilitas untuk melakukan beragam kemaksiatan khususnya saat perayaan tahun baru.

              Tidak layak bagi seorang muslim yang masih melekat dalam dirinya keinginan untuk memasuki surga Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk turut terlena dalam euphoria perayaan tahun baru Masehi. Islam telah melarang umatnya melibatkan diri di dalam perayaan hari raya orang-orang kafir, ataupun bentuknya sama saja telah mengikuti kekufuran. Melibatkan diri di sini mencakup perbuatan : mengucapkan selamat, hadir di jalan-jalan untuk menyaksikan atau melihat perayaan orang kafir, mengirim kartu selamat, dan lain sebagainya. Adapun perayaan hari raya orang kafir di sini mencakup seluruh perayaan hari raya, perayaan orang suci mereka, dan semua hal yang berkaitan dengan hari perayaan orang-orang kafir (musyrik maupun ahlul kitab).

          Akankah kita biarkan kejahiliyahan dan kemaksiatan ini berlangsung terus-menerus? Tentu tidak. Sekaranglah saatnya kita untuk berubah. Berdiam diri terhadap kekufuran dan kemaksiatan adalah sebuah kehinaan. Dan melakukan perubahan adalah jalan kemuliaan. Mari kita perjuangkan bersama. Yuk, kita kembali ke jati diri kita sebagai seorang Muslim, yaitu terikat dengan Syari’ah Islam. Back To The Real MUSLIM STYLE, bukan western style. Kembali pada Islam agar kemuliaannya segera terwujud dengan tegaknya hukum Islam untuk mengembalikan tatanan kehidupan yang dirusak oelh budaya dan pemikiran Barat. Wallaahu a’lam.

Selasa, 20 Desember 2016

PESAN TERAKHIR IBU SEBELUM JADI PENGANTIN



NASEHAT SEORANG IBU UNTUK ANAK PEREMPUANNYA DI MALAM PENGANTIN

            Wahai anakku, kau telah keluar dari “sangkar” dimana kau terbiasa di dalamnya, tapi sekarang kau menuju “ranjang” yang belum kau kenal dan pasangan yang kau belum terbiasa dengannya. Jadilah kamu bumi, niscaya ia akan menjadi langit bagimu. Jadilah kau hamparan, niscaya ia akan menjadi budak laki-laki bagimu. Janganlah kau memaksakan tuntutanmu, karena ia bisa melupakanmu. Bila ia mendekatimu, maka mendekatlah kepadanya. Bila ia menjauhimu, maka menjauhlah darinya. Jagalah hidungnya, pendengarannya, dan matanya darimu. Jangan sampai ia mencium aromamu, melainkan aroma kebaikan. Janganlah sampai ia mendengar, selain kebaikanmu. Dan jangan sampai ia melihat, melainkan kecantikanmu..”


Senin, 12 Desember 2016

KELUARGAKU SURGAKU, BUKAN TERMINAL



KELUARGAKU SURGAKU, BUKAN TERMINAL

            Sering kita jumpai keluhan keluarga yang mengatakan tidak mempunyai waktu luang untuk berkumpul dengan keluarganya, kecuali malam hari. Belum lagi dihimpit oleh rasa lelah karena seharian bekerja, sehingga menghantarkannya untuk langsung tidur. Mana waktu untuk berkumpul sama keluarga? Berdiskusi dan sebagainya. Padahal keluarga butuh suasana kebersamaan untuk bisa saling mendengar dan didengarkan. Anak pun juga ingin mendapatkan perhatian khusus dari kedua oranguanya.
            Tidak jarang pula ditemui bahwa bukan cuma bapak yang banting tulang mencari nafkah, tapi ibu juga banting tulang siang dan malam. Anak tidak tau menau apa aktivitasnya. Pulangnya malam, setelah itu istirahat, dan besok pergi lagi untuk bekerja. Begitulah siklus kehidupannya. Seolah rumah hanya dijadikan sebagai tempat peristirahatan sementara saja ibarat terminal. sibuk dengan rutinitas masing-masing, akibatnya anak tidak terkontrol, kurangnya perhatian dari orang tua dan menyebabkan banyak terjadi penyimpangan dalam keluarga.
            Harus dipahami, bahwasanya dengan sistem perekonomian yang kian menjerat umat sehingga umat pun berada pada kurva tingkat paling bawah. Inilah faktor pemicu seorang perempuan turut andil dalam bekerja. Padahal di dalam Islam, yang bertugas wajib untuk mencari nafkah adalah bapak. Ketika perusahaan membutuhkan perempuan yang bekerja, lalu laki-laki tereksekusi dalam melakukan perannya. Disini tampak bahwa para kapitalis hanya memanfa’atkan potensi yang ada pada perempuan untuk meningkatkan citra perusahaannya. Maka, disini pula perempuan perlu menyadari bahwa segala sesuatu yang menghantarkannya pada kemudhoratan yang besar, maka haram baginya untuk melakukan perbuatan tersebut.
            Islam sangat memuliakan perempuan. Allah telah melebihkan kekuatan kepada kaum laki-laki ketimbang kaum perempuan. Oleh karena itu laki-laki yang wajib mencari nafkah dengan bekerja. Sementara perempuan tidak diwajibkan. Tugas perempuan adalah sebagai ummu wa robbatul bayt (ibu pengatur rumah tangga), mendidik anak sehingga menjadikannya generasi yang cerdas dan mampu menjadi pembela Islam yang terpercaya. Dengan menjalankan tugas pokok dan fungsi nya masing-masing sesuai dengan aturan Islam, tidak keluar dari koridor Islam, maka jadilah keluarganya menjadi sakinah mawaddah wa rohamah, dan baiti jannati mampu ia raih bersama keluarganya. Allahu Akhbar.